Rabu, 16 Maret 2016
Rabu, 03 Juli 2013
beriman dan beristiqomah
HADITS ARBAIN KE-21: ISTIQOMAH
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ [رواه مسلم]
Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Suufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahuanhudia berkata, saya berkata, "Wahai Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu". Beliau bersabda,"Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah (istiqomah-lah)". (HR. Muslim)
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:
- Iman kepada Allah Ta’ala harus mendahului ketaatan.
- Amal shalih dapat menjaga keimanan.
- Iman dan amal saleh keduanya harus dilaksanakan.
- Istiqomah merupakan derajat yang tinggi.
- Keinginan yang kuat dari para shahabat dalam menjaga agamanya dan merawat keimanannya.
- Perintah untuk istiqomah dalam tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati.
Biografi Perawi Hadits:
Sahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sufyan bin 'Abdillah bin Rabi'ah bin Al-Harits Ats-Tsaqafiradhiallohu 'anhu, kun-yah beliau adalah Abu 'Amr, ada juga yang mengatakan Abu 'Amrah, beliau adalah sahabat yang mulia yang menjabat gubernur wilayah Ath-Thaif pada zaman kekhalifahan 'Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu, hadits ini adalah satu-satunya hadits yang beliau riwayatkan yang terdapat dalam Al-Kutubus sittah (kitab hadits yang enam) Lihat Tahdzibut Tahdzib (4/115).
Kedudukan Hadits:
Hadits ini mengandung wasiat (nasihat) yang sangat besar manfaatnya dan mencakup semua perkara agama, dan termasuk jawami'ul kalim (hadits-hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang lafadznya singkat tapi maknanya padat). Lihat Ad-Durarus Saniyyah (hal. 86) dan Jami'ul 'Ulum (hal. 510).
Beberapa Masalah Penting yang Terkandung Dalam Hadits Ini:
Pertama, Besarnya semangat para Sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam menanyakan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, dan tujuan mereka dalam menanyakan hal-hal tersebut adalah benar-benar untuk mengilmui (mengetahui) dan mengamalkannya, bukan hanya semata-mata untuk pengetahuan, karena ilmu yang tidak dibarengi amal adalah seperti pohon yang tidak memiliki buah, Allah'azza wa jalla berfirman tentang hamba-hambaNya yang bertakwa:
"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya". (QS. Muhammad: 17)
Imam Al-Khatib Al-Baghdadi berkata: Seorang penuntut ilmu hendaknya menjadikan urusan-urusan kehidupannya berbeda dengan kebiasaan orang-orang awam, dengan selalu berusaha mengamalkan hadits-hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam (dalam setiap urusannya) semaksimal mungkin dan menerapkan sunnah-sunnah. Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam dalam dirinya karena sesungguhnya Allah'azza wa jalla berfirman:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzaab: 21)
Kemudian Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan kisahnya Abu 'Ishmah 'Ashim bin 'Isham, dia berkata: Suatu malam aku menginap di rumah Imam Ahmad bin Hambal, beliau membawakan air (untuk aku gunakan ketika berwudhu) dan beliau meletakkan air itu (di dekatku), maka besok paginya dia melihat air itu (dan mendapatinya tetap) seperti semula (tidak aku pakai untuk berwudhu), maka beliau pun berkata: Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak punya wirid (zikir/bacaan Al Quran yang terus dilakukan oleh seseorang) pada malam hari? Al Jami’ Liakhlaqirraawi wa Adabissaami’ (1/215), lihat Ad-Durarus Saniyyah(hal. 85).
Kedua, Iman kepada Allah 'azza wa jalla mencakup semua hal yang wajib diyakini dalam landasan dan pokok-pokok keimanan dari apa-apa yang Allah 'azza wa jalla beritakan tentang diri-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk,yang disertai dengan amalan-amalan dalam hati, ketaatan dan ketundukan yang sepenuhnya lahir dan batin kepada Allah 'azza wa jalla.
Ketiga:, Keharusan untuk tetap istiqomah dalam keimanan sampai di akhir hayat, dan makna istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling darinya ke kiri maupun ke kanan, dan ini semua mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah 'azza wa jalla) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya dan perintah untuk beristiqomah disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, di antaranya firman Allah 'azza wa jalla:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Robb kami ialah Allah" kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushshilat: 30), dan firman-Nya:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Robb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)." (QS. Al-Ahqaaf: 13-14)
Akan tetapi, bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin dapat terus-menerus sempurna dalam istiqomah, karena bagaimana pun manusia tidak akan luput dari kesalahan dan kelalaian yang menyebabkan berkurangnya nilai keistiqomahannya. Oleh karena itu, Allah 'azza wa jalla memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa untuk mengatasi keadaan ini dan memperbaiki kekurangan tersebut, yaitu dengan beristighfar (meminta ampun kepada Allah 'azza wa jalla) dari semua dosa dan kesalahan, Allah berfirman:
"Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya". (QS. Fushshilat: 6), dan istighfar di sini mengandung pengertian bertaubat dan kembali kepada keistiqamahan. Dan ayat ini semakna dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallamkepada Mu'adz bin Jabal radhiallahu 'anhu: "Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik". (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 5/153, dan At Tirmidzi no. hadits 1987) Ibid.
Keempat, Dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits yang shahih Allah 'azza wa jalla dan Rasul-Nya shalallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan sebab-sebab untuk tetap teguh dan istiqomah dalam keimanan, dan kami akan sebutkan dalam makalah ini beberapa sebab penting di antara sebab-sebab tersebut sebagai berikut:
1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar
Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan 'ucapan yang teguh' dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". (QS. Ibrahim: 27)
Makna 'ucapan yang teguh' dalam ayat ini adalah dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar, sebagaimana yang ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (jilid 4, hal. 1735):
Dari Baro' bin 'Azib radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Seorang muslim ketika dia ditanya (diuji) di dalam kuburnya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa 'tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah' (لا إله إلا الله) dan 'Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah' (محمد رسول الله), itulah makna Firman-Nya: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat".
2. Membaca Al-Qur'an dengan menghayati dan merenungkannya
Al-Qur'an adalah sumber peneguh iman yang paling utama bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah:
"Katakanlah: 'Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" (QS. An Nahl: 102)
Allah 'azza wa jalla telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa tujuan diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur angsur adalah untuk menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam , Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Berkatalah orang-orang yang kafir: Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)". (QS. Al-Furqon: 32)
3. Berkumpul dan bergaul bersama orang-orang yang bisa membantu meneguhkan iman
Allah menyatakan dalam Al-Qur'an bahwa salah satu di antara sebab utama yang membantu menguatkan iman para sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah keberadaan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus". (QS. Ali 'Imran: 101)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)." (QS. At-Taubah: 119)
Dalam sebuah hadist yang hasan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya di antara manusia ada orang-orang yang keberadaan mereka sebagai pembuka (pintu) kebaikan dan penutup (pintu) kejelekan". (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dalam kitab “Sunan” (jilid 1, hal. 86) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman” (jilid 1, hal. 455) dan Imam-imam lainnya, dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani)
4. Berdoa kepada Allah
Dalam Al Quran Allah 'azza wa jalla memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do'a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan". (Ali 'Imran: 146-148)
Dalam ayat lain Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. Al-Baqarah: 250)
5. Membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang shalih yang terdahulu untuk mengambil suri teladan
Dalam Al-Qur'an banyak diceritakan kisah-kisah para Nabi, Rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu, yang Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah'azza wa jalla berfirman:
"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman". (QS. Hud: 120)
Sumber: http://www.fkdfunpad.org/
Jumat, 28 Juni 2013
Adab Bertamu
Agama Islam adalah agama yang sempurna. Islam telah menjelaskan berbagai perkara, sekecil apapun perkara tersebut. Tidak ada kebaikan kecuali telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak pula ada keburukan kecuali beliau telah melarangnya. Di antara hal yang diperhatikan oleh agama Islam adalah perkara bertamu. Lalu seperti apakah Islam mengaturnya? Pada edisi kali ini akan disebutkan beberapa adab dalam bertamu beserta dalil- dalilnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian dan menjadi amal shalih bagi penulis. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
1. NIAT BAIK
1. NIAT BAIK
Saat bertamu hendaknya seorang muslim meniatkannya untuk kebaikan. Seperti berniat untuk menyambung silaturahmi, memperkuat ukhuwah (persaudaraan), penghormatan kepada tuan rumah atau niat baik lainnya. Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
2. IZIN TUAN RUMAH
عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٌ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)).
Dari Umar bin al Khaththab, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin ia perolehnya, atau untuk wanita yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang berhijrah kepadanya. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
2. IZIN TUAN RUMAH
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. (Qs. an-Nur: 27).
3. PULANG JIKA TIDAK DIIZINKAN
3. PULANG JIKA TIDAK DIIZINKAN
Karena bisa jadi tuan rumah sedang sibuk dengan suatu perkara dan tidak bisa diganggu. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya: "Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.
Dan jika dikatakan kepadamu "Kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs. an-Nur: 28).
4. IZIN KALU NGAJAK ORANG LAIN
Dan jika dikatakan kepadamu "Kembali (saja)lah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs. an-Nur: 28).
4. IZIN KALU NGAJAK ORANG LAIN
Bila kedatangannya berkaitan dengan undangan tertentu dan dirinya berkeinginan untuk membawa orang lain yang tidak mendapatkan undangan, maka hendaknya ia meminta izin kepada tuan rumah.
Hal di atas sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ada seorang laki-laki di kalangan Anshar yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang, yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridha, izinkanlah ia! Bila tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Syua'ib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”" (HR. al-Bukhari)
5. TIDAK MAKAN SEBELUM DIPERSILAHKAN DAN TIDAK BERLAMA-LAMA SESUAI KEPERLUAN.
Allah subhanahu wa ta'ala telah menjelaskan hal di atas di dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. al-Azab: 53)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “...Tidak halal baginya (tamu) berlama- lama di tempat kunjungannya sehingga memberatkan tuan rumah.” (HR. al-Bukhari no. 6135) .
6. MENDOAKAN TUAN RUMAH
6. MENDOAKAN TUAN RUMAH
Di antara adab seorang tamu adalah mendoakan kebaikan dan barokah untuk tuan rumah. Rasulullah telah mencontohkan hal tersebut. Dahulu Setelah Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu menghidangkan makanan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berdoa:
اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim no. 2042)
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim no. 2042)
Atau dengan doa-doa lainnya yang telah diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seputar permasalahan ini.
7. MENJAGA SOPAN SANTUN
7. MENJAGA SOPAN SANTUN
Seorang muslim sejati akan senantiasa menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan atau melontarkan perkataan yang dapat menyakiti hati orang lain. Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa “Seorang itu (disebut) muslim apabila kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim)
Maka itu, dalam bertamupun harus menjaga kesopanan diri dan akhlak mulia, serta tidak membuat tuan rumah gerah. Dengan demikian, ia akan merasa senang dan bahagia dengan tamunya tersebut.
8. UCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA TUAN RUMAH
8. UCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA TUAN RUMAH
Selain itu hendaknya sang tamu juga mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah atas jamuannya yang baik. Karena Islam memerintahkan hal tersebut. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR.
Ahmad III/118, lihat: Shahih al-Jami’ no. 6541)
Demikian tadi beberapa adab dalam bertamu yang dapat di bahas pada edisi kali ini. Semoga setelah kita membaca dan memahaminya kita diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya. Amin.
orang paling kaya sedunia
oleh: Ust Abdullah Zaen, Lc., M.A.
Siapakah orang yang paling kaya di dunia saat ini?
"Yang punya perusahaan Microsoft; Bill Gates!" Mungkin inilah jawaban yang terlontar, andaikan salah seorang dari kita dihadapkan pada pertanyaan di atas. Atau bisa jadi jawabannya, "Pemain bola anu!" atau "Artis itu!"
Berbagai jawaban di atas barangkali akan sangat dianggap wajar karena barometer kekayaan di benak kebanyakan orang saat ini diukur dengan kekayaan harta duniawi. Padahal, jika menggunakan barometer syariat, bukan merupakan hal yang mustahil bahwa kita pun amat berpeluang untuk menjadi kandidat orang paling “kaya”!
Orang paling kaya di mata syariat
Orang paling kaya, jika diukur dengan timbangan syariat, adalah: orang yang paling nrimo.
Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah)
Kaya hati, atau sering diistilahkan dengan "qana'ah", artinya adalah 'nrimo (menerima) dan rela dengan berapa pun yang diberikan oleh Allah Ta'ala.
Berapa pun rezeki yang didapatkan, dia tidak mengeluh. Mendapat rezeki banyak, bersyukur; mendapat rezeki sedikit, bersabar dan tidak mengumpat.
Andaikan kita telah bisa mengamalkan hal di atas, saat itulah kita bisa memiliki kans besar untuk menjadi orang terkaya di dunia. Ujung-ujungnya, keberuntunganlah yang menanti kita, sebagaimana janji Sang Musthafa shallallahu 'alaihi wa sallam,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya)." (HR. Muslim; dari Abdullah bin 'Amr)
Berdasarkan barometer di atas, bisa jadi orang yang berpenghasilan dua puluh ribu sehari dikategorikan orang kaya, sedangkan orang yang berpenghasilan dua puluh juta sehari dikategorikan orang miskin. Pasalnya, orang pertama merasa cukup dengan uang sedikit yang didapatkannya. Adapun orang kedua, dia terus merasa kurang walaupun uang yang didapatkannya sangat banyak.
Bagaimana mungkin orang yang berpenghasilan dua puluh ribu dianggap berkecukupan, padahal ia harus menafkahi istri dan anak-anaknya?
Ya, selain karena keberkahan yang Allah limpahkan dalam hartanya, juga karena ukuran kecukupan menurut Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebagai berikut,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya." (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)
Kiat membangun pribadi yang qana'ah
Di antara resep sukses membentuk jiwa yang qana'ah adalah dengan melatih diri untuk menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki hanyalah di tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat oleh Allah Ta'ala, serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.
Allah Ta'ala mengingatkan,
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
"Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah." (QS. Hud:6)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menasihatkan,
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوْتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ، فَلاَ تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ، وَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا النَّاس، وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ، خُذُوْا مَا حَلَّ وَدَعُوْا مَا حَرُمَ
"Sesungguhnya, seseorang di antara kalian tidak akan mati kecuali setelah dia mendapatkan seluruh rezeki (yang Allah takdirkan untuknya) secara sempurna. Maka, janganlah kalian bersikap tidak sabaran dalam menanti rezeki. Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia! Carilah rezeki secara proporsional, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram." (HR. Al-Hakim; dari Jabir; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Buah manis qana'ah
Sebagai suatu karakter yang terpuji, qana'ah tentunya menumbuhkan sifat-sifat positif lainnya, yang tidak lain adalah buah dari qana'ah itu sendiri. Di antaranya:
Pertama: Qana'ah menjadikan seseorang tidak mudah tergiur untuk memiliki harta yang dimiliki orang lain.
Dia merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya, sehingga dia selalu hidup dalam ketenteraman dan kedamaian batin. Dia tidak pernah iri maupun dengki dengan kelebihan nikmat yang Allah limpahkan pada orang lain.
Karakter istimewa inilah yang Allah rekam sebagai salah satu perangai para sahabat Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, tatkala Dia menceritakan kondisi mereka yang fakir,
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً
"(Orang lain)--yang tidak tahu--menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya, karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai Muhammad), mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada orang lain." (QS. Al-Baqarah:273)
Kedua: Qana'ah menempa jiwa seseorang untuk tidak mengadu tentang kesusahan hidupnya, melainkan hanya kepada Allah Yang Mahakaya.
Inilah salah satu tingkatan tawakal tertinggi, yang telah dicapai oleh para nabiyullah. Sebagaimana yang Allah ceritakan tentang Nabi Ya'kub 'alaihis salam,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ
"Dia (Ya'kub) berkata, 'Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'" (QS. Yusuf:86)
Mengapa para kekasih Allah hanya mengadu kepada-Nya? Karena keyakinan mereka yang begitu mendalam bahwa dunia seisinya tidak lain hanyalah kepunyaan Allah. Lantas mengapa tidak meminta saja kepada Yang Maha Memiliki segalanya, dan kenapa harus meminta kepada zat yang apa yang dimilikinya tidak lain hanyalah bersumber dari Yang Maha Memiliki?
Namun, realita berkata lain. Rata-rata, kita masih lebih suka mengetuk pintu para makhluk sebelum mengetuk pintu Sang Khalik. Karena itulah, para ulama mengingatkan, "Siapakah di antara kita yang meminta kebutuhannya kepada Allah sebelum ia memintanya kepada manusia?"
Qana'ah berarti tidak bekerja dan ikhtiar?
Janganlah dipahami dari seluruh keterangan di atas, bahwa kita tidak perlu bekerja dengan alasan qana'ah. Sehingga, cukup duduk berpangku-tangan di rumah, dengan dalih: kalaupun sudah saatnya hujan emas, niscaya akan turun juga!
Qana'ah tidaklah seperti itu, karena qana'ah maksudnya: seorang hamba bekerja semampunya dengan tetap memperhatikan rambu-rambu syariat. Setelah itu, berapa pun hasil yang didapatkan dari kerjanya, diterimanya dengan penuh rasa ridha tanpa menggerutu.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan hakikat tawakal dan korelasinya dengan ikhtiar, dalam sebuah perumpamaan yang sangat detail,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
"Andaikan kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya kalian akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung memperoleh rezeki. Dia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, lalu pulang di sore harinya dalam keadaan perut kenyang." (HR. Tirmidzi, dan beliau berkomentar bahwa hadis ini hasan sahih)
Ya, tentunya supaya burung bisa memenuhi perutnya, ia harus “mencari nafkah”! Dan inilah tawakal yang sebenar-benarnya; berikhtiar lalu hasilnya serahkan pada Allah ta'ala.
Wallahu a'la wa a'lam...
Kedungwuluh, Purbalingga, 7 Ramadhan 1430/28 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

